Friday, October 3, 2008

Peran Orangtua dalam Proses Belajar Anak

Seputar Indonesia, Lifestyle - Kids
Artikel oleh psikolog anak Ibu Woro Kurnianingrum, MPsi (Angel's Wing) untuk Koran Sindo, Kamis 19 April 2007


Kita sering kali mendengar kata ”belajar”. Hanya, belajar sering diartikan dengan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) atau menuntut ilmu di sekolah. Pengertian belajar tersebut lebih terkait dengan dunia pendidikan formal.

Padahal belajar itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu perubahan perilaku yang diperoleh dari pengalaman,baik secara informal maupun secara formal. Belajar secara informal dapat diperoleh seseorang melalui pengalaman sehari- hari dengan menggunakan pancaindranya. Belajar seperti ini ditunjukkan dengan perilaku mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu sendiri, mendengar, maupun mengikuti petunjuk. Belajar secara informal sebenarnya telah berlangsung sejak anak lahir ke dunia. Mulai dari belajar beradaptasi terhadap lingkungannya yang baru hingga belajar mengenali peraturan-peraturan yang berlaku umum di masyarakat.

Jadi, tanpa disadari bayi pun telah mengalami proses belajar yaitu belajar mengenal dunianya sesuai kapasitas perkembangan usianya. Untuk belajar secara formal,seseorang dapat memperolehnya dengan mengikuti pendidikan di suatu tempat atau lembaga khusus, seperti sekolah, tempat kursus, dan sebagainya. Belajar secara formal inilah yang lebih populer dan sering digunakan untuk mengartikan kata ”belajar”. Tak dapat dimungkiri,proses belajar anak dalam kaitannya dengan dunia pendidikan merupakan bagian pokok yang sering menjadi masalah, baik oleh diri anak itu sendiri atau orangtuanya.

Berikut ini pun akan lebih dibahas mengenai belajar dalam kaitannya dengan dunia pendidikan. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai proses belajar,sebaiknya kita melihat terlebih dahulu beberapa faktor yang dapat memengaruhi seorang anak dalam belajar. Pertama, faktor yang berasal dari dalam diri anak.Faktor ini terbagi menjadi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Faktor fisiologis di sini mencakup nutrisi, kondisi tubuh, penyakit, pancaindra, dan lain-lain yang ada pada diri anak.

Dari faktor psikologis, faktor ini meliputi: adanya sifat ingin tahu anak dan keinginannya untuk menyelidiki dunia yang lebih luas; adanya sifat yang kreatif pada anak dan keinginan untuk selalu maju; adanya keinginan anak untuk mendapatkan simpati dari orangtua, guru, dan teman- teman; adanya keinginan anak untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan kerja sama maupun dengan persaingan; adanya keinginan anak untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran; serta adanya ganjaran atau hukuman sebagai hasil daripada belajar. Kedua, faktor di luar diri anak. Faktor ini meliputi faktor sosial dan faktor nonsosial.

Faktor sosial yaitu faktor kehadiran orang lain, seperti orangtua atau saudara kandung, baik kehadiran secara langsung maupun tidak. Adapun faktor nonsosial, antara lain keadaan udara, cuaca, ruangan atau tempat belajar, serta sarana dan prasarana untuk proses belajar itu berlangsung. Meskipun sekolah sebagai salah satu tempat untuk pendidikan formal anak, tetap orangtua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak dapat menjadi penunjang prestasi anak di sekolah.

Adapun bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan orangtua dalam membantu proses belajar anak, antara lain dengan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung untuk proses belajar. Lingkungan di sini termasuk secara fisik dan psikologis. Untuk lingkungan secara fisik di sini, orangtua dapat menyediakan sarana dan prasarana yang dapat digunakan anak untuk belajar, seperti ruangan atau tempat untuk belajar,meja dan kursi,buku tulis dan buku pelajaran, serta peralatan tulis.

Adapun untuk lingkungan secara psikologis, orangtua diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang mendukung. Apabila anak lebih mudah berkonsentrasi dalam keadaan hening, maka orangtua dapat mengurangi atau mematikan volume suara televisi. Setiap orangtua pasti memiliki impian maupun harapan tersendiri terhadap anak-anaknya. Untuk itu, orangtua dapat menunjukkan harapan yang tinggi terhadap prestasi dan karier masa depan anak.

Namun sebaiknya tetap realistis dengan melihat kemampuan dan minat yang dimiliki anak. Untuk anak dalam tingkat pendidikan taman kanak-kanak (TK), orangtua dapat memperhatikan dalam aktivitas apa anaknya terlihat antusias. Apakah aktivitas keterampilan tangan, aktivitas yang menuntut kemampuan berpikir seperti bermain puzzle, atau aktivitas yang membutuhkan kemampuan bersosialisasi. Untuk anak yang telah duduk di sekolah dasar (SD) atau tingkat selanjutnya, orangtua dapat melihat pada pelajaran apa anaknya tampak unggul atau memperoleh nilai yang tinggi. Selain itu, orangtua perlu mengetahui dan membantu mengoptimalkan cara belajar yang dimiliki anak. Setiap anak memiliki cara belajar yang berbedabeda.

Misalnya apakah anak lebih mudah menyerap informasi dengan cara membaca, mendengarkan, atau dengan melihat benda/gambar dalam wujud nyata. Orangtua juga perlu menyadari bahwa anak bukanlah robot yang dapat diprogram sesuai keinginan orangtua. Jangan heran jika anak tidak menyukai belajar karena melihat orangtua tidak pernah menyentuh buku atau sekadar membaca koran, melainkan hanya memberi perintah kepada anak untuk belajar. Untuk menumbuhkan sikap dan minat anak dalam belajar,orangtua sebaiknya juga memberi contoh yang positif pada anak mengenai sikap dan minat dalam hal belajar.

Dalam kaitannya dengan sekolah, orangtua dapat membantu anak dalam tugas- tugas sekolah. Misalnya dengan membantu mengulang materi di sekolah,membimbing anak dalam mengerjakan PR (pekerjaan rumah), maupun dengan menyediakan sarana dan prasarana anak dalam tugas prakarya atau kesenian (art project). Selain itu, orang tua juga dapat meluangkan waktu untuk dapat terlibat dalam membantu program sekolah.

Misalnya dengan melakukan pengawasan terhadap cara pengajaran yang diterapkan oleh pihak sekolah,membantu mengumpulkan dana untuk kegiatan kemanusiaan yang diadakan sekolah, atau membantu mengawasi anak apabila melakukan kunjungan luar (field trip). Salah satu kunci untuk meraih tujuan dalam pendidikan anak ialah adanya komunikasi antara orangtua dengan pihak sekolah. Ada beberapa topik yang dapat dibicarakan orangtua dengan pihak sekolah. Pertama, mengenai sikap dan pola pengasuhan orangtua yang berkaitan dengan pendidikan yang diterapkan di rumah. Kedua, harapan orangtua terhadap prestasi dan perilaku anak di sekolah.Dan ketiga, orangtua mengetahui harapan sekolah terhadap aktivitas anak di rumah.

Dengan adanya keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak, dapat diperoleh beberapa manfaat, antara lain anak memiliki sikap yang lebih positif dalam belajar. Kedua, anak lebih bersemangat untuk ke sekolah. Ketiga, anak menunjukkan prestasi belajar yang lebih baik. Terakhir, anak cenderung dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang tertinggi dan meraih pekerjaan yang memadai.(*)

Oleh : Woro Kurnianingrum, MPsi Magister Psikologi Universitas Tarumanagara
Psikolog Anak - Angel's Wing


______________________________________________________
Website : www.angelswing.or.id Telp. 021-54350166, 0818-08642642.
Angel's Wing melayani
Terapi Okupasi, Sensory Integration SI, Behavior, Physiotherapy, Orthopedagog (Kesulitan belajar khusus), Layanan Psikologi Umum (Test IQ, Minat Bakat, dll), dan Terapi Wicara (speech delay, post operasi celah bibir dan langit-langit/cleft, cadel, gagap).

1 comment:

atha said...

nice info...
memang sangat penting peran orang tua dalam proses belajar anak
terima kasih....